Loading...
Wednesday, June 4, 2014

Krisis Spiritual


Krisis Spiritual
            Di era modern, manusia mulai meninggalkan nilai-nilai spiritual. Manusia sudah menganggap dirinya berkuasa terhadap dirinya sendiri. Ketergantungan terhadap Tuhan tidak lagi menjadi sebuah kebutuhan yang harus diutamakan. Manusia sudah menjadi insan yang independen. Inilah sebuah reaksi era modern, sebuah nilai-nilai baru di dalam masyarakat yang memusatkan tatanan kehidupan terhadap manusia itu sendiri. Hal-hal yang terjadi dalam kehidupan menjadi sebuah tanggung jawab pribadi. Sebagai akibatnya, nilai-nilai spiritual yang seharusnya dibudayakan telah terputus oleh sebuah era yang penuh akan rasionaitas.
             Sebagian orang yang telah mengenal kenikmatan dunia dengan banyaknya materiil. Mungkin mereka merasa bahwa segala apa yang dilakukan adalah sebagai bentuk dari ke independenan dirinya terhadap dunia. Segalanya dapat ia lakukan terhadap apa yang ia inginkan. Namun, adakah nilai-nilai kedamaian bathin yang dapat ia rasakan. Transportasi yang mewah, kemajuan tekhnologi yang pesat dan perkembangan-perkembangan lain yang sangat maju akan melupakan kita terhadap nilai-nilai substansi kebahagiaan.  Dimensi spiritual tenggelam dengan sendirinya atas berjalannya peradaban yang semakin maju ini. Maka manusia hanya akan melepaskan hubungan bathin yang kerap kali di nomor duakan.
            Dalam teologi Islam, terdapat dua aliran yang saling bertentangan. Yaitu aliran Qodariyah yang berasumsi bahwa segala perbuatan manusia di dunia adalah mutlak manusia-lah yang berkehendak, tidak ada intervensi oleh Tuhan. Dan aliran Jabariyah yang berasumsi bahwa segala perbuatan manusia di dunia merupakan suatu intervensi dari Tuhan (Fatalism). Melihat fenomena kondisi saat ini, sepertinya orang telah mulai meninggalkan hal-hal yang dikaitkan terhadap Tuhan. Artinya kondisi zaman ini akan didominasi oleh suatu doktrin tersendiri oleh faham qodariyah. Meski saat ini tak ada satu dakwah teologis yang membawa terhadap mainstrean ini, namun kemujuan zaman akan mengangkut pada arus rasional.
Zaman ini, sudah tidak bisa dielakkan lagi bahwa tradisi dan budaya kita telah mengalami sebuah transformasi. Dahulu, ketika orang-orang sedang ditimpa musibah sakit atau sebuah kegelisahan, meraka akan mencari obat dan menyegarkan kembali jiwanya pada hal-hal yang mistis (Irasional) dalam ke-agamaan. I’tikaf di mesjid, membacakan sebuah surat atau ayat al-Qur’an diyakini sebuah obat yang dapat menyegarkan kembali ruh kerohanian bathin. Namun sekarang, orang-orang telah beralih terhadap pengobatan-pengobatan yang nyata (Rasional).  Dengan mencari pengobatan yang sifatnya praktis seperti terapi yang sifatnya adalah pengobatan.
Dalam kondisi dan situasi yang serba rasional ini, sudah semestinya kita dapat membaca dan memilih terhadap apa yang seharusnya kita lakukan. Bukan dengan sepenuhnya meninggalkan tradisi spiritual kita yang mulia yang selama ini telah terbukti dapat menentramkan jiwa. dan juga bukan sepenuhnya terlarut dalam dunia Fatalism dengan hanya mengandalkan spiritual semata. Namun, karena era ini adalah era rasional, kemajuan semakin berkembang hingga menuntut kita mengikuti arus zaman ini. Semestinya kita tetap membudayakan nilai-nilai spiritual sebagai oase dalam menyikapi permasalahan-permasalahan yang sangat pesat. Dan tidak menafikan perkembangan zaman rasional ini.
Persoalan-persoalan tentang rasionalitas dan irasionalitas sebenarnya bukan hanya terjadi di era ini. Sejak zaman filsafat teosentris sebenarnya dialektika perdebatan antara determinism dan fatalism sudah terjadi. Artinya hal ini jangan sampai membuat kita kaget terhadap keadaan yang ada. Karena langkah yang paling baik adalah kita menggabungkan tradisi-tradisi yang telah diwariskan oleh orang-orang sebelum kita, dalam arti sesuai dan masih dinilai baik untuk diterapkan saat ini. Namun, kita juga jangan sampai sensitif terhadap hal-hal baru yang sangat baik untuk kita jadikan sebuah tradisi baru untuk kondisi dan situasi saat ini. 
            Spiritual yang di zaman ini telah mulai di tinggalkan, tidak akan pernah lenyap dan hilang karena sebuah zaman rasional. Karena spiritual pada hakekatnya adalah sebuah nilai-nilai yang terkandung dalam setiap insan. Ia akan tetap bertahan dengan sendirinya, diatas budaya-budaya miskin  moral. Sehingga sudah selayaknya kita menjunjung tinggi substansi kebahagiaan. Meski pada realitanya dunia telah menjadi kehidupan rasional. Dalam keadaan seperti apapun bukan berarti kita akan kaget dengan sebuah perubahan. Karena dalam realita sejarah kehidupan selalu dinamis. Tidak statis dalam satu tradisi tertentu.

0 comments:

Post a Comment

 
TOP