Loading...
Saturday, September 3, 2016

JAKARTA ITU MENGERIKAN BRO




(Refleksi Lima Tahun Hidup di Jakarta)

Halo Bro and Sist. Tulisanku kali ini akan sedikit berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya. Kalau anda baca tulisan di perkakas rumahku www.ahmadhifni.com ini, akan lebih banyak tulisan yang bersifat akademis. Aku memang tertarik dengan paradigma Academic Mindset, dan bukan tulisan curhatan. 

Namun kali ini, di 5 tahun keberadaanku di Jakarta, tiba-tiba ingin sekali menulis tentang Ibu Kota. Berhubung hari ini akhir pekan, kupikir cocok sekali menyajikan tulisan dengan gaya dan genre yang enteng dan tidak memerlukan energi keras untuk memahaminya.. Mohon dimaklumi kalau jelek, soalnya ini perdana :-P. Ok bro n sist aku akan mulai bercerita. 

Jadi begini. Tepat 5 tahun lalu aku meninggalkan kota kelahiranku Jember menuju Jakarta. Tujuanku satu: menimba ilmu. Aku ingat persis, saat pertama kali di Jakarta jalanan sangat macet. Tapi sebagai orang kampung (ndeso), melihat Jakarta seperti surga. Betapa tidak, gedung-gedung pencakar langit berjubel, jalan-jalan layang bertingkat dan mulus menghiasi pemandangan indah ibu kota, sungguh takjub sekali. 

Lima tahun berlalu, tak pikir-pikir sekarang ini kok malah makin macet ya. Padahal jalan-jalan kerap dibangun. Gubernur dan kebijakannya kerap berganti. Tetapi tetap saja, tetap macet ! Ibaratya, kemacetan ibu kota adalah penyakit yang kian hari kian parah. Jangan-jangan nanti bisa menjadi penyakit akut. Kayak jantung koronernya Dodit comic itu..

Kamu pasti sudah tau bro and sist, tiap tahun penduduk Jakarta kian bertambah. Tidak hanya itu, transportasi semacam mobil dan motor juga terus bertambah. Tambah ruwet jalanan. Ini kok semua orang ingin ke Jakarta ya. Aneh, padahal kehidupan begitu keras, persaingan kian sulit dan pekerjaan tidak menentu. Setiap tahun pasca mudik pasti ada saja yang membawa teman. Baik tetangga, sanak saudara, bisa satu, dua, tiga atau banyak orang. 

Di Jakarta, apa-apa orang-orang mesti cepat. Orang-orang terburu-buru dikejar pekerjaan dan aktivitas. Banyak sekali yang berdasi. Mereka kalau jalan terburu-buru. Cepat! Kerja mesti cepat. Makan mesti cepat. Pulang-pergi mesti cepat. Padahal kelewat buru-buru itu tidak baik, kalau kata orang bijak itu tindakan ceroboh. Mungkin inilah sebabnya banyak kecelakaan. Ada orang diseruduk mobil. Ada pemotor ditabrak transjakarta. Ada mobil nyelonong trotoar dan tabrakan di tol. Ada kerata nabrak kopaja, ada bus terbakar dll banyak sekali.

Yang paling tidak enak, di sini banyak orang-orang kelewat kasar. Kalau bicara kayak membentak, gak ada sopan santunnya. Kadang suka berantem. Seperti ketemu di jalan lalu saling melotot dan akhirnya berantem. Mobil atau motor kena senggol maka pengemudinya berantem. Merasa dirinya benar dan orang lain salah. Dibentak sedikit juga berantem. Mungkin lantaran Jakarta banyak orang stres, yaitu hidup yang kelewat sumpek.

Aku kira mungkin karna soal kesenjangan sosial yang kelewat tajam. Di satu sisi banyak orang kaya yang punya mobil ganda, bininya tiga, selingkuhannya tak terhingga, tanahnya di mana-mana. Di sisi lain banyak orang tidak mampu yang tidurnya-pun bisa di gerobak dan di bawah jembatan. Mungkin ini sebabnya banyak kejahatan di Jakarta. 

Saban hari ada saja kasus kriminal. Entah ditusuk, dikeroyok, dipukuli, ditodong dll. Banyak yang dijambret dan diperkosa. Bahkan ada orang sinting keliaran, memasukkan alat kelaminya ke dubur anak-anak kecil. Di kampungku tidak ada perilaku seperti ini bro..

Orang Jakarta tingkah pongahnya memang aneh. Di bawah fly over dan jembatan banyak banci yang mangkal. Laki-laki suka dandan kayak perempuan. Perempuan nakal di mana-mana. Mucikari artis juga ada. Remaja kumpul-kumpul mabok saban malam, terus jingkrak-jingkrak sampai pagi. Katanya ada pil yang bisa bikin teler. Bikin ngeri tapi akal sehat tidak bisa mengerti. 

Kalau musim hujan, Jakarta bisa banjir. Ada yang sedengkul bahkan ada yang tenggelam. Di basement gedung-gedung pencakar langit itu mobil-mobil pada tenggelam, bahkan nyawa orang melayang. Orang bilang itu banjir kiriman. Tapi ada juga yang bilang itu akibat tanah resapan yang kurang.

Bro and Sist, orang Jakarta memang rakus, mulai dari kaki lima sampai yang berdasi. Di sini tidak ada got/selokan yang bersih. Semua dipenuhi sampah. Airnya sampai hitam. Mampet, bau, bercampur macam-macam kotoran. Jadinya, tikus-tikus sebesar kucing senang gemirang. 

Di sini ada orang ditangkap, dituduh macam-macam, lalu disuruh minta maaf. Ada orang dibunuh, tapi yang membunuh tidak jelas. Lalu ada politisi korupsi, tapi bisa kabur dan lenyap. Anehnya pemerintah banyak memberi remisi. Anak-anak sekolah saban hari berantem dan tawuran sampai ada yang tewas. Kerusuhan dan demonstrasi menjadi pemandangan sehari-hari.

Inilah Jakarta, dari jauh kayaknya mulus bro. Tapi begitu agak dekat, ternyata banyak problemnya. Itu sebabnya di sini enggak enak. Jakarta makin banyak masalah. Makin banyak yang tak tuntas. Kata orang sudah dulu Jakarta begitu. Katanya, ini penyakit kota besar. Dan masih banyak problem yang lebih besar. Hidup di desa memang lebih enak. Sejuk, damai, dan tentram. Bukan kebisingan atau kerakusan. 

Terus enaknya hidup di Jakarta gimana ? ya ndak mau aku tulis bro. Nanti banyak orang ingin ke Jakarta. Nanti malah tambah masalah..  Wallahu a'lam

0 comments:

Post a Comment

 
TOP