Loading...
Monday, October 5, 2015

Peran Besar Gerakan PMII




PMII sebagai salah satu organisasi mahasiswa mempunyai peran yang besar dalam membangun solidaritas dan gerakan mahasiswa di Indonesia.
          Hal ini tercermin dari kader-kader PMII yang selalu aktif menyuarakan gerakan dan memimpin aksi-aksi nyata serta melakukan pembelaan terhadap HMI yang terancam dibubarkan.
Gerakan PMII
Gerakan PMII pada 25 Oktober 1966 mampu memberi andil besar dalam pembubaran PKI. Gerakan ini dimainkan oleh PMII sebagai pemimpin mahasiswa. Ketika itu Zamroni sebagai ketua PB PMII  dipercaya memimpin  Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) melalui pertemuan yang diprakarsai oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP), Sjarief Thajeb. Organisasi yang tergabung dalam KAMI adalah PMII, PMKRI, GMNI, dan Mapancas.
Zamroni sebagai kader PMII sangat lincah dan sigap memimpin KAMI. Terutama dalam memimpin demonstrasi mahasiswa tangga 10 Februari 1966 yang kemudian mengalirkan arus kekuatan besar mahasiswa dalam meruntuhkan rezim Orde Lama serta pembubaran PKI. Pengorbanan Zamroni sampai pada  konsekuensi nyata bahwa sebagai pemimpin gerakan mahasiswa, harus merelakan jemari tangannya terpotong hingga tersisa dua buah. Ini sekaligus menjadi bukti begitu besarnya pengorbanan Zamroni sebagai kader PMII dalam membela dan menggerakkan idealisme mahasiswa.
Tak hanya itu, inspirasi KAMI terhadap gerakan mahasiswa mampu memberi motivasi pada komunitas gerakan mahasiswa baru sebagai lambang perlawanan terhadap kebijakan pemerintah. Maka muncullah Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI) dan lain-lain.
Gerakan ini menjadi kebanggaan dan rasa solidaritas yang tinggi dari kalangan organisasi mahasiswa lain. PMII juga telah membuktikan bahwa mampu mengambil andil yang sangat besar dalam menginisiasi sikap mahasiswa. Meminjam Mahbub Junaidi, bahwa tangan PMII lah yang mengayunkan garis-garis besar dan pokok-pokok statemen pembubaran PKI, apa yang terjadi setelah itu kita semua sudah tahu, likuidasi secara total dilakukan seutuhnya oleh masa rakyat yang cinta kepada Pancasila.
Kebijakan serta garis-garis yang ditentukan oleh PB PMII ketika itu, agar kader PMII harus memimpin KAMI sangat tepat. Bahwa PMII harus ikut dan memimpin KAMI mulai pusat sampai daerah. Kebijakan ini telah dibuktikan dengan cepat dan luas oleh PMII. Maka Zamroni telah menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan baik pada KAMI. Itu berarti, juga kepemimpinan oleh PMII.
Gerakan lain dari PMII adalah ketika sahabat Zamroni bersama 34 orang pemuda Indonesia berhasil mencetuskan deklarasi pemuda, sehingga lahirlah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Kemudian KNPI berhasil masuk ke dalam GBHN pada sidang umum MPR 1978. Dan sampai hari ini KNPI menjadi organisasi pemuda paling berpengaruh di Indonesia.
Pada tahun 1974 PMII bergabung dalm kelompok Cipayung. Kelompok yang berkomitmen untuk terus mempertahankan idealisme sebagai organisasi mahasiswa. Di situlah tempat sejumlah organisasi ekstra-universitas dengan berbagai latar sosial, ideologi dan agama mengadakan pertemuan untuk membahas masa depan masyarakat dan bangsa Indonesia yang dicita-citakan.
Kelompok Cipayung ini terdiri dari berbagai kelompok oranisasi mahasiswa, antara lain PMII, HMI, GMNI, GMKI, dan PMKRI.  Kehadiran kelompok Cipayung ini sangat berharga bagi kalangan aktivis mahasiswa. Karna pada saat itu gerakan mahasiswa terus dibatasi ruang geraknya oleh kebijakan pemerintah yang otoriter. Bahkan sampai hari ini, para alumnus kelompok Cipayung bisa kita temukan di sektor-sektor pemerintahan, dosen, LSM, dan pengabdian masyarakat.
Pembelaan terhadap HMI
Peran lain PMII adalah solidaritas. Hal itu tercermin pada pembelaan PMII terhadap HMI yang terancam dibubarkan oleh presiden Soekarno. Ketika HMI yang berafiliasi dengan Masyumi mendapatkan cobaan dan terancam dibubarkan, PMII menggerakkan dan memimpin kalangan pelajar, pemuda dan mahasiswa Islam untuk melakukan solidaritas dan pembelaan.
Pembelaan PMII sampai pada 19-26 Desember 1964, bersama GP Anshor menyelenggarakan musyawarah di kalangan pelajar dan mahasiswa Islam. Musyawarah ini menghimpun organisasi pemuda pelajar dan mahasiswa Islam yang diharapkan mampu menumbuhkan rasa solidaritas di kalangan pemuda Islam. Kemudian melahirkan organisasi federasi pemuda, pelajar dan mahasiswa Islam yang dikenal dengan nama GEMUIS (Generasi Muda Islam).
Salah satu hasil musyawarah itu adalah usaha yang harus dilakukan untuk menyelamatkan HMI yang sedang mengalami cobaan berat. Dari sinilah GEMUIS menghasilkan dua keputusan penting tentang usaha pembelaan terhadap HMI dengan pernyataan, pertama, HMI bukanlah underbow dan tidak pernah mempunyai hubungan organisatoris dengan partai atau organisasi manapun. Kedua, masalah yang dihadapi HMI tidak dapat dipisahkan dari masalah keseluruhan umat Islam. Maka jika HMI sampai hari ini mampu berdiri kokoh dengan kaderisasi yang terus berjalan, itu tak lain juga karna peran PMII yang membela dan mempertahankan HMI dengan rasa solidaritas sesama organisasi mahasiswa Islam.
Dari semua pemaparan ini, gerakan dan solidaritas PMII terus mewarnai perjalanan bangsa. Tentu, peran dan aksi lain gerakan PMII sangatlah besar, namun tak mungkin  dijelaskan secara detail dalam tulisan pendek ini. Setidaknya, hal ini harus menjadi refleksi untuk warga PMII dan mahasiswa lain. Betapa besar perjuangan dan pengorbanan PMII dalam membangun tatanan rumah bernama Indonesia untuk terus menjadi lebih baik.
PMII akan terus  memberi warna signifikan terhadap perjalan bangsa di masa-masa yang akan datang. Baik dalam gerakan atau diskursus-diskursus penting tentang peranan mahasiswa untuk bangsa. Maka slogan familiar PMII dengan diksi “tangan terkepal dan maju kemuka” jangan hanya menjadi slogan formal gerakan, tetapi harus dimaknai dan ditafsirkan pada esensi suatu gerakan nyata. Dengan pemaknaan yang substantif  maka lahirlah praktek sosial berupa gerakan mahasiswa pembela bangsa dan penegak agama.

0 comments:

Post a Comment

 
TOP