Loading...
Monday, October 5, 2015

Ramadhan di waktu Malam




Malam itu kami berlima minum kopi, di depan Pusat Studi Qur’an, lembaga yang didirikan Prof. Quraish Shihab, di jalan pas depan Fakultas Kedokteran, di bawah naungan pohon dan kursi seadanya. Malam itu cuaca cerah. Taburan bintang di langit malam serta lantunan ayat-ayat tadarus di awal bulan ramadhan membuat nuansa nongkrong kami lebih asik. Kami duduk sambil mendiskusikan banyak hal. Dimulai dari politik, sepakbola, sosial, Islam, sampai perkawinan.
Di awal obrolan, kami memulai perihal ramadhan, dinamikanya, serta tingkah masyarakat menyambut ramadhan.
Iya, kini ramadhan telah datang. Bulan yang paling mulia dibanding seluruh 12 bulan Hijriah, sejak Muharram, Syafar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Syawwal, Zulkaidah dan Zulhijjah. Tidak hanya mulia, tetapi juga peluang sangat baik untuk meminta ampunan (Maghfiroh) atas segala dosa  yang kita lakukan selama 11 bulan lalu.
            Setiap muslim bergembira menyambut kedatangan bulan ini. Segala amal ibadah, seperti shalat wajib, sunnah tarawih, tadarus, zikir, infaq, sedekah, menyantuni fakir miskin, anak yatim dan segala perbuatan-perbuatan baik lainnya, jauh berlipat ganda dibanding bulan-bulan lain.
            Kata Prof. Quraish Shihab, di acara metro TV tafsir al-Mishbah, ramadhan adalah bulan Tashfiyah (menyucikan diri) dan muhasabah (introspeksi). Di bulan Ramadhan, kita seolah masuk bengkel. Ibarat mobil yang telah dipakai selama 11 bulan, tentu perlu diservis, diperiksa akinya, radiatornya, businya, mesinnya apakah sudah karatan, minyak rem, oli, perseneling, dan sebagainya apakah sudah tidak baik.
            Ramadhan juga menjadi bulan pelatihan dan pendidikan (Syahru Ta’limiyah wa Syahru Tarbiyyah) untuk diterapkan pada 11 bulan mendatang. Melatih diri untuk taat beribadah, melatih diri untuk menjaga amarah, santun, rendah hati, tidak pendusta, jujur, tidak kikir, tidak royal. Singkatnya, momentum melatih diri untuk melaksanakan apa yang Allah perintah dan meninggalkan apa yang Allah larang.
            Salah satu dari teman kami menyeletuk, cak ! (Sahabat-sahabat biasa memanggilku),  di masjid Fathullah, al-Muhajirin, an-Nubala, dan sebagian besar masjid-masjid lain sekitar Ciputat sangat ramai dan padat oleh jemaah yang menunaikan shalat tarawih. Terasa rumah ibadah itu sempit, tidak mampu menampung jamaah yang berjubel. Kataku, pengalaman empirisku, ini sudah menjadi penyakit masyarakat, diawal semangat, membeludak, lama-kelamaan jemaah makin berkurang seperti ekor tikus, semakin ke ujung makin kecil. Apalagi di malam pada 10 malam terakhir puasa, yang kata para muballigh disebut malam babak final, mesjid, langgar, surau terasa sepi dan lapang. mudah-mudahan ini hanya pesimisku.
Kata dia, setuju! tapi kita harus selalu optimis, meskipun realitas kacau balau, ritual ibadah hanya menjadi sebuah seremonial. Haha jangan-jangan benar kata Karl Marx bahwa agama hanyalah ritual yang menjadi candu bagi masyarakat (religion as opium of the people). Ibarat kau merokok itu, adalah candu. Haha sambil menarik lebih kencang hisapan asap rokok itu dia ketawa.
            Temanku melanjutkan, Bagaimana dengan imam shalat?. tentu, Jemaah akan memberi penilaian sendiri terhadap para ustad dan imam shalat. Ada yang mengatakan penat mengikuti imam karena ayat yang dibaca panjang-panjang. Sebaliknya ada yang mengatakan imam seperti lewat jalan tol, saking cepatnya lidah imam membaca ayat-ayat dalam shalat.
Di dalam bayanganku, bagaimana kalangan orang-orang sepuh penderita asam urat, reumatik atau penyakit sepuh lainnya menggerutu karena saking lamanya berdiri tegak menahan sakit. Dan bagaimana pula mereka menggerutu karena belum selesai membaca Subhana Robbiyal ‘adzimi wabihamdihi di waktu ruku’, sang imam telah memberi aba-aba untuk tegak berdiri.
Haha kelak jika kita harus kembali ke kampung halaman untuk mengabdi pada masyarakat, kita harus memahmi situasi kondisi jemaah kita cak. Haha Siaap Insha Allah celotehku..
Obrolan kami terus berlanjut. Salah satu temanku berkata, masih teringat jelas dibenak kami, ketika menghadiri berbagai pernikahan teman-teman sejawat bulan lalu. Iya, ketika bulan Sya’ban memang sangat marak pernikahan antara bujang dan gadis. Kedua jenis kelamin ini, seperti kita maklumi, nafsu seksnya sedang dalam kondisi prima, bergejolak atau masa pancaroba pertama. Bagaimana kalau keluar dari koridor? Mereka menerobos hubungan intim di waktu siang di bulan Ramadhan?
Aku jadi Teringat nasehat ustadku. Ketika itu, aku masih duduk di bangku sekolah kelas 2  Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN) Jember.
Beliau menerangkan, bahwa suami istri yang bersetubuh di siang hari dalam bulan Ramadhan didenda memerdekakan budak. Kalau tidak mampu, puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang msikin satu hari. Jika satu orang miskin saja, maka serahkan makanan selama 60 hari. Jika tidak sanggup semua itu, satu-satunya jalan adalah menjauhi hubungan intim itu pada siang hari. Ketakwaan pengantin baru diuji pada siang hari di bulan ramadhan.
Beliau lanjutkan, jika hubungan dilakukan di malam hari, wajib mandi junub sebelum fajar. Kedinginan sekalipun itu resiko. Selain berhubungan intim, istimna’ (onani/ self service seks) juga dilarang. Namun, bermimpi melakukan hubungan intim dan keluar mani tidaklah membatalkan puasa.
Bagi perempuan, Haid dan nifas, serta kotoran yang keluar seusai melahirkan, termasuk yang membatalkan puasa. Maka puasanya nanti harus dibayar dikemudian hari (selain bulan ramadhan) sebanyak hari-hari kamu tidak berpuasa.
Pertanyaannya, Bagaimana dengan memeluk dan mencium istri di bulan puasa ? ada yang mengatakan batal ada yang mengatakan makruh. Kecuali bagi pasangan suami-istri yang lanjut usia celotehnya. Haha
Sudahlah pembahasan kita terlalu lebar. Saatnya sahur..
Marhaban Ya Ramadhan. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa...

0 comments:

Post a Comment

 
TOP