Loading...
Friday, February 26, 2016

Strukturalisme dalam Budaya


Strukturalisme dalam Perspektif Budaya[1]

(Sebuah Perpaduan Studi Sosiologi dan Linguistik)

Oleh: Ahmad Hifni[2]


“Le sujet y est parle plutot  qu’il ne parle. le discours de l’Autre”

(Dalam percakapan psikoanalitis, subjek tidak berbicara, tetapi dibicarakan. ketidaksadaran merupakan diskursus yang lain)

--Jacques Lacan--



“Segala yang ada di dunia ini, tanpa adanya struktur, barangkali kehidupan manusia akan berantakan dan tidak akan terarah. Segala yang terjadi di dunia ini bukan kebetulan, tetapi sudah terstruktur dengan sangat rapi. Ijtihad Om Claude Levi-Strauus menemukan tesis monumentalnya “mazhab strukturalisme” membuat Eropa bungkam atas arogansi otoritas kemanusiannya, bahwa manusia tidak lagi menjadi tuan atau penguasa dalam rumahnya sendiri. Manusia tidak membuat sistem, tetapi takluk pada sistem itu sendiri, manusia seakan-akan tergeser dari pusatnya dan ternyata ikut menjadi objek atas perputaran struktur di dunia”.

--Ahmad Hifni--



Pendahuluan

Terminologi tentang “Strukturalisme” masih sulit ditentukan maknanya. Menurut Bertens (1936) setidaknya ada tiga hal kesulitan dalam menentukan defini strrukturalisme, pertama, istilah “struktur” dan “strukturalisme” banyak sekali dipakai di dalam studi ilmiah, dan maknanya sangat dinamis, tidak selalu dalam arti yang sama. Faktanya, istilah “strukturalisme” banyak digunakan dalam studi matematika, logika, fisika, antropologi, linguistik, sastra dan mungkin juga akan digunakan dalam studi keilmuan lainnya. Kedua, sangat sulit untuk menentukan identitas seorang strukturalis. Misalkan, Claude Levi Strauss yang dikenal sebagai “The Father of France Strukturalis”, ia adalah ahli antropologi budaya, bukan seorang filosof, tetapi ia bisa mencetuskan teori fenomenal yang dikenal dengan “strukturalisme”. Ketiga, para tokoh-tokoh strukturalis, secara umum tidak senang dengan sebutan itu[3]. Jika demikian, kemudian bagaimana kita bisa memahami Strukturalisme itu?


Terminologi Strukturalisme

Kata “Struktur” dapat diartikan sebagai kaitan-kaitan yang teratur antara kelompok-kelompok gejala. Sedangkan “Strukturalisme” bisa diartikan sebagai suatu gerakan pemikiran atau metodologi sains yang memberikan implikasi ideologi. Pengertian lainnya adalah suatu cara berpikir yang memandang seluruh realitas (al-maujud) sebagai keseluruhan yang terdiri dari struktur-struktur yang saling berkaitan, artinya struktur itu adalah tatanan wujud-wujud yang meliputi keutuhan, transformasi dan pengaturan diri.

Maksudnya adalah pertama, keutuhan yaitu bahwa tatanan wujud itu bukannya himpunan semata, melainkan karena tiap komponen yang tergabung di dalamnya pada aturan intrinsik dan tidak memiliki otoritas kebebasan di luar struktur. Kedua, transformasi yaitu struktur itu tidak statis tetapi dinamis. Ketiga, pengaturan diri yaitu struktur tersebut tidak meminta bantuan unsur ekstrinsik dalam proses transformasional tersebut.

Secara sederhana, strukturalisme  bisa diartikan sebagai aliran dalam filsafat manusia yang menempatkan struktur (baca: sistem) bahasa dan budaya sebagai kekuatan yang menentukan perilaku dan kesadaran manusia. Dalam mazhab ini, manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang tidak bebas, yang berstruktur oleh sistem bahasa dan budaya. Tidak ada perilaku, pola berpikir dan kesadaran manusia yang bersifat individual dan unik yang bebas dari sistem bahasa dan budaya yang mengungkungnya[4].

Dalam pandangan mazhab strukturalis, manusia bukan sebagai pusat realitas, bukan pusat kenyataan, pusat pemikiran, kebebasan, tindakan dan sejarah. manusia hanya diselidiki sebagai unsur yang berfungsi dalam macam-macam struktur bawah sadar, struktur-struktur politik, dan struktur-struktur sosial ekonomis. Manusia dibicarakan sebagai roda kecil dalam suatu mekanisme otonom.

Fungsi manusia dalam keseluruhan struktur-struktur dapat dibandingkan dengan fungsi kata dalam suatu teks, manusia tidak bicara sebagai suatu subjek, tetapi dibicarakan sebagai objek. Pandangan inilah yang dimaksud sebagai anti-tesis dari pandangan mazhab eksistensialis yang meyakini manusia sebagai pusat realitas. Di sampaing itu pandangan ini juga mengguncangkan pandangan empirisme dan rasionalisme serta para saintis yang mengagungkan epistimologi rasional-empirik dan realitas objektif.


Latar Historis

Secara historis, strukturalisme lahir sekitar tahun 60-an sebagai anti-tesis dari filsafat fenomenologi eksistensialis, yang memiliki pandangan manusia sebagai titik sentral eksistensi kehidupan. Tetapi bagi mazhab strukruralis, manusia digambarkan sebagai hasil dari struktur-struktur, bukan sebagai pencipta struktur-struktur. Saat itu strukturalisme dengan cepat dikenal orang. Tokoh yang memprakarsai mazhab ini adalah Claude Levi-Straus dan Michel Foucault. Inti dari penelitian mereka adalah bagaimana bisa terjadi bahwa dalam suatu kebudayaan segala sesuatu bisa saling berhubungan?. Tesis dari studi mereka menghasilkan jawaban bahwa kehidupan manusia juga ter-struktur.

Aliran atau mazhab pemikiran ini muncul ketika mazhab eksistensialisme pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh struktur-struktur ilmiah, teknologi dan ekonomi membuat eksistensi manusia sebagai subjek yang otonom kian pudar. Awalnya, strukturalisme hanya dikenal sebagai metode dalam studi linguistik yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. Dalam perkembangannya merambah pada bidang studi lainnya. Misalnya, oleh para penganut mazhab formalisme Rusia, strukturalisme diterapkan dalam studi ilmu sastra. Noam Chomsky menerapkan pada bidang linguistik, Claude Levi-Strauss menerapkan pada bidang Antropologi budaya, dan M. Faocault dalam sejarah kebudayaan.


Pandangan Strukturalisme Budaya

Dalam menentukan corak strukturalisme perspektif budaya, maka acuannya adalah Levi-Strauss sebagai bapak strukturalis Perancis (peletak dasar strukturalisme) yang ia geluti dalam perspektif antropologi budaya. Levi-Strauss meyakini bahwa analisis kebudayaan (bahkan analisis kehidupan sosial, termasuk seni dan agama) bisa dilakukan seperti model analisis bahasa. Menurutnya, sifat dan aspek-aspek kebudayaan sama sama dengan sifat-sifat bahasa[5]. Oleh karena itu, Levi-Strauss menyamakan objek kebudayaan sama dengan objek linguistik.

Pandangan teori strukturalisme budaya ini sangat dipengaruhi oleh teori linguistik, terutama yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. Adalah teori monumentalnya berupa signifiant (penanda), signifie (yang ditandakan), langue (bahasa umum), parole (Bahasa Individu), sinkroni (peninjauan ahistoris) dan diakroni (peninjauan historis)[6].  Bahasa seluruhnya merupakan sistem tanda, unsu-unsur bahasa yang disebut fonem merupakan sutu sistem yang terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. Aturan-aturan linguitik memperlihatkan suatu taraf tidak sadar. Misalkan aturan perihal tata bahasa diterapkan orang tanpa ragu. Padahal orang tidak mengenal hukum atau atau aturan itu secara sadar. Begitu juga dengan kebudayaan masyarakat, mereka menjalankan budaya kesehariannya tanpa sadar bahwa terdapat sistem yang terstruktur dalam implementasinya.

Fenomena kebudayaan dapat ditanggapi sebagaimana sistem atau rangkaian tanda. Tanda memiliki makna atau lebih tepat diberi makna. Akan tetapi makna ini berada pada tataran yang tidak disadari oleh pelakunya atau pemberi makna itu sendiri. Begitu juga fenomena kebudayaan yang terjadi di kalangan masyarakat juga memiliki struktur yang tidak disadari oleh manusia sendiri. Melalui pendekatan filsafat bahasa dalam mengkaji pemikiran tokoh maka ditemukan bahwa prestasi tokoh strukturalisme seperti Claude Levi-Strauss (1908) ini adalah memadukan antara sosiologi dan antropologi dengan mengikutsertakan ilmu bahasa.

Levi-Straus menganalisis dan menjelaskan sistem kekerabatan masyarakat dengan menggunakan teori strukturalis. Ia menyamakan objek kekerabatan dengan linguistik dengan argumen yang menarik. Kekerabatan dan perkawinan merupakan sebuah sistem dan sistem itu terdiri atas relasi-relasi dan oposisi. Misalkan suami-istri, bapak-anak, saudara laki-laki-saudara perempuan dan seterusnya. Hal ini sama dengan bahasa, kekerabatan merupakan komunikasi, karena ada informasi dan pesan-pesan yang disampaikan individu ke individu yang lain. Dan karena alasan klan-klan, suku, famili, dan grup-grup sosial lain saling tukar menukar wanita, begitu juga bahasa sebagai penukaran, komunikasi dan dialog[7].

Levi-Strauss menggunakan metode antropologi dan linguistik secara serempak. Dalam penerapan metodenya, kemiripan berbagai macam mitos dan adat-istiadat dalam pelbagai masyarakat dipandang sebagai porsi dari struktur yang tidak dikonstitusikan oleh analisis melainkan dilarutkan dengan analisis[8]. Levi-Strauss memandang perilaku budaya, upacara, ritus, kekerabatan, hukum perkawinan, cara memasak dan sebagainya bukan sebagai wujud yang intrisik, yang diperhatikannya adalah hubungan unsur-unsur yang membentuk strukturnya masing-masing, sepadan dengan unsur fonologis suatu bahasa. Istilah kekerabatan merupakan unsur makna; seperti fonem, istilah kekerabatan itu memperoleh makna hanya jika diintegrasikan ke dalam sistem.

Dengan demikian, kebudayaan itu seperti fonem. Ia merupakan suatu sistem yang tak terpisahkan, di dalamnya terdapat satuan-satuan unsur yang tak terpisahkan satu sama lain. Sebagai contoh, Levi-Strauss memandang bahwa kekerabatan di dalam masyarakat primitif sebagai sistem komunikasi, karena klen-klen atau famili-famili atau grup-grup sosial lain, tukar menukar budaya. Sebagaimana bahasa merupakan pertukaran, komunikasi, dialog demikian juga sistem kekerabatan.


Tokoh-Tokoh Strukturalisme

Beberapa tokoh penting mazhab Strukturalisme adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913), Levi Strauss (1949), Michael Foucault (1926), Jacques Lacan (1901), Louis Althusser (1918), Noam Chomsky (1926), Roland Barthes, Jacques Derrida, Jakobson dan Julia Kristeva. Tiga tokoh yang disebut terakhir bisa dikategorikan sebagai tokoh-tokoh peletak post-strukturalisme dalam sastra dan para penganut mazhab post-modernisme[9].


Pustaka

Abidin, Zainal. Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, 2003, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya)

Bartens, K. Filsafat Barat Kontemporer, (Cet. III dan IV, Edisi Revisi dan Perluasan, Gramedia Pustaka Utama, 2001 dan 2006)

Hidayat, Asep Ahmad. Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda, 2006, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya)

Outhwaite, Willian. Ensiklopedi Pemikiran Sosial Modern, 2008 (Edisi Kedua, Cet I; Jakarta: Kencana Prenada Media Group). Lihat Bottomore, T. Dan Nisber, R eds 1978: Bab 14. A

Verhaar, J.W.M, Asas-asas Linguitik Umum, 2010(Yogyakarta: Gadjah Mada University)


[1] Makalah ini disampaikan dalam kajian rutin mingguan Madrasah Qohwah; Ciputat Cultural Studies dengan tema”Strukturalisme dalam Perspektif Budaya”, Jum’at, 04 Maret 2016
[2] Aktif Pada Madrasah Qohwah; Ciputat Cultural Studies
[3] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda, 2006, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hlm.101
[4] Zainal Abidin, Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, 2003, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya), Hlm. 34
[5] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda, 2006, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hlm.113
[6] J.W.M. Verhaar, Asas-Asas Linguistik Umum, 2010 (Yogyakarta: Gajah Mada University)
[7] K. Bartens. Filsafat Barat Kontemporer, (Cet. III dan IV, Edisi Revisi dan Perluasan, Gramedia Pustaka Utama, 2001 dan 2006) Hlm. 210
[8] Willian Outhwaite. Ensiklopedi Pemikiran Sosial Modern (Edisi Kedua, Cet I; Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008). Hlm 852. Lihat Bottomore, T. Dan Nisber, R eds 1978: Bab 14. A
[9]Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda, 2006, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hlm.105

1 comments:

 
TOP